Featured Article

Kamis, 06 Februari 2014

Kini, Hanya Dakwah Ikhwanul Muslimin yang Dianggap Asing

"Mana Rabb kalian yang bernama Allah!?" Teriak penjaga penjara."HasbunaLlahu wani"mal Wakiil Nilmal Maulaa wa Ni'man Nashir", tahanan politik dari Ikhwan hanya membalas dengan dzikir.

"Allah lagi...Allah lagi...kalian sudah salah langkah. Allah gak akan menolong kalian. Buktinya di Rab'ah, kalian dibantai, nyawa kalian dilenyapkan, para wanita dihinakan, harta kalian disita...Manaaaa Allah...!", teriak sipir penjara makin emosi.

Sang tapol hanya menundukkan badan. Memohon dalam kesyahduan doa. Airmatanya nampak sudah mengering. Darah tak henti mengalir dari sekujur tubuh. Tak terdengar rintihan rasa sakit. Seakan rasa sakit telah sirna terbawa amarah murka jagal-jagal penjara.

Sungguh, Ikhwanul Muslimin kini terasing, ghurobaa. Dituduh kafir, murji'ah dan khowarij oleh Salafy hanya karena menyerukan perdamaian dengan Kristen Koptik yang minoritas. Dituduh Shufi dan Syiah oleh Hizb Nur Salafy, hanya mengamalkan dzikir Ma'tsurat Imam Hasan Al-Banna. Dituduh tidak nasionalis oleh ulama-ulama sulthon (penguasa). Dianggap antiminoritas oleh Kristen Koptik. Disebut teroris oleh pemerintah. Hingga disamakan denga agen Israel-antek AS oleh Hizbut Tahrir.

Semua tuduhan itu terbantahkan di dunia kenyataan. Bahasa kenyataan membalikkam 180 derajat. Hanya Ikhwan, jamaah yang menganut paham universalitas Islam di saat HT hanya terpangku menunggu khilafah dan meninggalkan jihad; Salafy yang hanya ribut masalah tauhid dan sunnah-sunnah, namun membiarkan jihad politik dikebiri oleh raja-raja yang bergelimang wanita dan materi; atau JT yang hanya memaknai khuruj sebagai ritual meninggalkan keluarga dan kampung sekitar. Ikhwan terbukti menjaga gereja dari anarkisme preman-preman. Ikhwan tak terperosok pada pertumpahan darah dan angkat senjata. Bahkan Kemendagri Mesir sudah terang-terangan menegaskan, pelaku pemboman bukan dari anasir Ikhwan. Namun sekali lagi, Ikhwan diasingkan. Mengapa?

Jawabannya, karena hanya Ikhwanul Muslimin yang masih emnjadikan Israel dan Zionisme sebagai musuh utama pergerakan Ikhwan, bukan yang lain. Karena spirit jihad melawan Israel dan Zionisme inilah, Ikhwan menerima hukuman dari budak-budak Yahudi di negeri-negeri Islam: Ikhwan harus terasing! Siapapun yang menjadi anggota Ikhwan harus siap dibunuh dan dilenyapkan! Hingga Israel dan Zionis tumakninah, karena muslimin yang tersisa hanya buih di lautan.

Kini saya memahami hadis: Islam itu dimulai dengan terasing dan akan kembali terasing. Di saat Islam dan pejuang Islam ditakuti Yahudi, bukan yang kompromi dengan Yahudi. Jadi Islam yang asing bukan sekedar janggut panjang, celana cangkring, mengibarkan bendera hitam aau putih. Tapi yang berani mengorbankan jiwa raga melawan perbudakan terhadap Yahudi dan antek-anteknya. Adapun yang hanya tampilan luar dan sibuk mengibarkan bendera tapi menebar kebencian, yakinlah ia binaan Yahudi. Alaahumma qad ballaghtu...fasyhad.

Umat Inisiator dan Umat Komentator

Umat Inisiator => Analisa realita, acara TV makin bahaya, maksiat merajalela. => Teringat solusi utama adalah kembali kepada Al-Qur'an. => Problemnya umat malasssssssssss. Tapi kalau ramai-ramai SEMANGAT. => Cling muncul ide; ODOJ (One Day One Juz). Subhanallah. Sebaran kebajikan ODOJ dirasakan.

Umat Komentator => Analisa peristiwa. Apapun dikomentari. TV diharamkan, tapi masih ditonton. Mengeluh maksiat makin merakyat. Tapi kalau ada dangdutan, merem melek. Dipikirannya tidak ada solusi. Hobinya lempar telunjuk: Gara-gara Demokrasi. Gara-gara Politik. Akibat ustadz-Kiai-. Nah pas ketika ada ODOJ. Ia komentar, "Apaan ODOJ? Gak ada Sunnahnya tahu? Ih amit-amit ... Sehalaman pun ia gak pernah khatam.

Dari ODOJ lahir ODOP One Day One Page, Menghafal Alqur'an 1 Halaman Perhari. Umat Inisiator, semangat mendaftar. Komentar paling pahit; "Berat memang. Tapi bismillah!" Komentar paling positif, "Siap ... biar ana jadi relawannya!"

Umat komentator, "Alaah ... ngapalin doang. Qur'an itu untuk diamalkan bukan dihafalkan!" Pedeeeesnya! Tambah lagi komennya, "NGerti kagak, pake belagu ngapalin Qur'an!" Dia sendiri baca Al-Kafirun gak selesai-selesai.
**** 
Banjir menerjang. 
Umat Inisiator => "Terjunkan relawan. Koordinasikan bantuan. Backup semua kebutuhan. Suplai air minum. Tentukan titik-titik banjir dan tempat evakuasi." Kebetulan supaya mudah koordinasi, seperti tim sepakbola, para relawan ini a! mengenakan seragam; ada PKS, Relawan Indonesia, Kepanduan, BSMI, Rumah Zakat. 

Umat komentator => Duh banjir aja jadi sarana kampanye! Dasar tukang jualan agama! Politik memang gak ada ikhlasnya dah mati nuraninya! Dibuatkan puisi yang isinya menyindir. Dia sendiri hanya berpangku tangan! 

Lainnya banyak. Tinggal memilih!

"Raih Kehormatan dan Kebaikan dengan Al Qur'an"



وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ ۖ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

"Dan Sungguh, Al Qur'an itu benar-benar suatu kehormatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban." (QS 43:44)

Ummatal qur'an hafidzokumulloh,

Nikmat terbesar dalam hidup adalah Al qur'anul karim. Kaum muslimin yg selalu berinteraksi dengan Al Qur'an mendapat kedudukan yg sangat istimewa.

Wa innahu ladzikrullaka, ladzikrullaka bermakna lasyarfun laka/kehormatan untukmu, dan kaummu dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban.

Ibrohnya:

1. Al Qur'an adalah kehormatan dan tanggung jawab. Kehormatan seluruh kaum mu adalah siapa yg terbaik dalam interaksinya dengan Al Qur'an. Sebagaimana: Khoirukum man ta'allamal wa 'allamahu.  Belajar Al Qur'an dan mengajarkannya. Atau Man 'amilalquran wa 'allamah.
Al Qur'an  juga merupakan masuliyah, tanggungjawab kita kepada Allah Swt, sejauh interaksi kita terhadap Al Qur'an.

Alhamdulillah kita dipilih untuk selalu berinteraski dengan Al Qur'an, diantaranya melalui sarana ODOJ (One Day One Juz) ini.

2. Al Khoiriyatu bada'at minal quran: kebaikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dimulai dengan Al Qur'an.

Orang sejahat apapun kalau sudah mulai berinteraksi dengan Al Qur'an, membaca dan seterusnya, akan berubah menjadi orang yang lebih baik.

Contoh sahabat Umar bin Khothob, sebelum masuk islam, sebelum berinteraksi dengan Al Qur'an, beliau banyak melakukan kejahiliyahan: anak perempuannya dibunuh, membuat tuhan dari manisan/berhala untuk sembah, ketika lapar, tuhannya dimakan. Berniat membunuh Nabi Muhammad, ketika mendapat informasi bahwa saudara perempuannya dan iparnya sudah menjadi pengikut Muhammad Saw, berubah ingin membunuh saudara dan iparnya tersebut, tetapi ketika sampai di tempat persembunyian kaum muslimin, Umar bin Khothob mendengar tilawah Al Qur'an, surat Thoha, Umar berubah beliau masuk Islam. Dan Setelah masuk islam beliau menjadi pejuang Al Qur'an, beliau menjadi pemimpin yang keadilan termasyhur, tidak hanya kepada manusia, bahkan tumbuh-tumbuhan: 'seandainya sehelai daun jatuh di negeri irak disebabkan negara tidak mengurusnya, Umar bertanggungjawab."

Oleh karena itu, kalau kita ingin memperbaiki diri dan pemimpin mulailah dengan Al Qur'an. Kita lembutkan hati kita dengan berinteraksi dengan Al Qur'an.  Lau anzalna hadzal qur'an 'ala jabalin laroaitahu khosyi'an mutashoddi'an min khosyatillah.

Gunung bisa hancur, berubah dengan Al Qur'an, oleh karena itu kalau ada orang tidak berubah dengan Al Qur'an, siapa yang hatinya lebih keras?

Bidayatul khoir, meningkatkan kebaikan dimulai dengan Al Qur'an.

3. Ahli Al Qur'an di dalam Islam mendapat awlawiyat, diutamakan. Ketika di masjid belum ada imam, mau sholat berjamaah, siapa yg paling berhak menjadi Imam? ahlul qur'an.
Pertemuan semacam  ini tidak sekedar tatsqif/penambah wawasan, harus jadi arahan untuk diamalkan.

4. Supaya tidak terjebak dalam juz'iyah (parsial), orang yang ahlul quran adalah orang yg berjihad di jalan Alloh.

Ketika Rasul wafat, digantikan sahabat Abu Bakar ash shidiq, masalah utama saat itu adalah: murtad, munculnya nabi palsu, orang mulai tidak mau membayar zakat. Sahabat Abu Bakar. r.a. yang berperangai lemah lembut, ketika berhadapan dengan kondisi tersebut,  kebijakan yang beliau ambil perangi orang yang murtad, nabi palsu dan orang yang tidak membayar zakat.

Juga setelah dalam peperangan ada 70 penghafal Qur'an yang syahid di medan jihad, maka Umar ra  mempunya ide agar Al Qur'an dikodifikasikan, karena saat itu terserak di banyak tempat.

Sahabat Abu bakar awalnya menolak, ini bid'ah, tidak ada di jaman nabi. Namun setelah terjadi dialog dan Allah berikan syarhu sodr/kelapangan dada, Abu Bakar ra.  menerima masukan dari Umar bin Khothob ra.

Ketika kita dan anak keturunan kita berinteraksi dengal Al Qur'an, melalui tilawah, tadabbur, tahfidz, mengamalkan dan mendakwahkan Al Qur'an,  jangan lupa berjihad di semua sektor kehidupan (politik, ekonomi, pendidikan dsb).

Perjuangan kita harus utuh.

Wallohu a'lam bishowab.


*ditulis by @bambanghsbekasi

Popular Posts